Suatu hari yang sangat dingin di Portland, ditemani secangkir kopi, dan roti bakar, saya sempat ngobrol dengan seorang teman lama. Beliau pindah dari Surabaya ke Amerika kurang lebih 20 tahun yang lalu. Dibuai dengan angan-angan “American Dream”, dia menjadi imigran dengan harapan bisa punya bisnis di Amerika dan hidup makmur dan berkecukupan. Namun setelah 20 tahun angan-angan itu meredup. Ia hanya punya keinginan terbatas sekarang, membesarkan anak-anaknya dan mungkin pensiun dengan tenang di Amerika. Itu saja.

Saya jadi ingat, seorang murid saya di Jogya, yang pernah ngobrol dengan saya, tentang bercerita tentang “the Indonesian Dream”. Menurut dia, dan juga sekian banyak teman-temannya, cerita klasik tentang orang tua mereka adalah selalu saja petuah lama, bahwa jangan sampai anak itu lebih melarat dari bapaknya. Dan itu sebabnya, buat mereka “the Indonesian Dream” jauh lebih sederhana, mencoba mengadu nasib di kota besar seperti Jakarta dan siapa tahu bakal sukses dan hidup berkecukupan. Bagaimana caranya ? Tergantung nasib nanti.

Semangat punya bisnis sendiri, dan kemudian sukses, seperti layaknya seorang pengusaha atau entrepener, hanyalah sebuah buaian mimpi. Kebanyakan dari mereka tidak punya strategi dan tidak punya tekad kuat. Akibatnya mereka menempuh jalan terpendek yang mereka miliki yaitu mencoba adu otot dan mencari pekerjaan. Atau mereka bersemboyan – “apa aje deh, yang penting halal”.

Kalau mereka kepepet tidak ada kesempatan lain, barulah mereka masuk ke level pengusaha yang paling rendah. Entah itu jadi tukang mie bakso, atau jadi tukang asongan makanan yang lain. Dengan “skills” atau kepandaian yang sangat terbatas, nasib mereka seringkali mandeg, dan mereka terjerat lingkaran nasib yang itu-itu saja. Karena mereka pengusaha, dan bukan lagi buruh, mereka diberi label pengusaha UKM alias Usaha kecil menengah.

Di Indonesia konon ada 64 juta unit UKM yang menyerap tenaga kerja hampir 117 juta dan memberikan kontribusi hampir 60% terhadap PDB atau GDP. Jadi jelas bahwa ini pilar ekonomi yang sangat strategis. Jangan heran apabila di Indonesia kita memiliki Kementerian Koperasi dan UKM, karena sejak dulu sektor ini dianggap sangat penting sekali. Negara seperti Singapore, UKMnya memberikan kontribusi terhadap PDB atau GDP sebesar 48% dan menyerap 65% dari total tenaga kerjanya (di Indonesia lebih dari 90% tenaga kerja ada di bisnis UKM).

Tantangan di Indonesia, selalu menjadikan UKM menjadi pilar ekonomi yang lebih tangguh dan mandiri. Dan melihat porsinya yang sangat besar terhadap ekonomi, sudah selayaknya UKM di Indonesia menjadi fokus penting, terutama pada paska pandemic covid 19. Semakin kokoh UKM kita semakin cepat pemulihan ekonomi Indonesia.

Baca juga  Ekonomi Khatulistiwa – Canda Bisnis ala Kafi Kurnia

Menurut Republika (22 Oktober 2020) yang menarik adalah UKM kita lebih dari 60%nya bergerak dibidang pangan, dan menyerap konsumsi 66% dari terigu nasional. Hampir dimana-mana kasus ini sangat mirip. Karena pangan adalah fokus kehidupan kita sehari-hari. Saya punya pengalaman menarik ketika berkunjung ke Itali beberapa kali. Disana makanan juga menjadi fokus. Mulai dari café kecil hingga ke tempat makan yang lebih besar. Kopi, toko kue, pizza, gelato hingga resto-resto tua. Teman saya yang mengajak saya berkeliling mengatakan bahwa tiap kuliner yang akan kita santap harus yang terbaik. Kadang kita harus berkeliling sejam atau lebih ketempat tujuan sebelum kita bisa menikmati sajian kuliner tersebut. Seringkali tempat itu dengan sajian kulinernya adalah pengusaha legendaris yang sangat terkenal dan usianya tak jarang sudah lebih dari seratus tahun, dan dikelola oleh generasi ke emat atau kelima. Ini konsep yang sangat unik sekali.

Mereka menyebut para pengusaha itu sebagai kaum “artisan”, yaitu mereka yang bertahun-tahun bersemangat sangat deras mencurahkan seluruh enerji mereka kedalam usaha mereka. Dalam prosesnya akhirnya mereka menemukan sebuah proses produksi yang sangat unik atau menjadikan kemahiran mereka menjadi sebuah rahasia dagang yang istimewa . Ini adalah konsep bersaing yang paling sederhana. Menciptakan perbedaan. Sehingga konsumen bisa merasakan perbedaan yang lain daripada yang lain. Karena unik dan berbeda akibatnya bisnis itu pada akhirnya bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan mereka tetap punya pendukung konsumen yang kuat dan banyak.

Saya pernah bertemu dengan seorang “Chef” yang mendongeng kepada saya tentang emping dari Aceh. Menurut beliau, ia hanya menggunakan emping Aceh untuk semua sajian kulinernya. Semata karena emping dari tempat lain cenderung tidak konsisten. Jadi ketika digoreng, ada yang tebal dan ada yang tipis. Kalau disantap, emping yang tebal cenderung “nyangkut” di gigi dan mengurangki kenikmatan makan. Emping dari Aceh menurutnya sangat konsisten, semuanya tipis, sehingga kalau digoreng akan renyah dan nikmat sekali. Barangkali ini adalah konsep “artisan” yang paling sederhana.

Menurut teman saya ini, UKM di Indonesia, tidak hanya harus diberi arahan dan bimbingan untuk kokoh dan mandiri, tapi juga di beri suntikan semangat “artisan”. Inilah semangat yang bisa menjadi lokomotif inovasi. Di Jepang misalnya – semangat “artisan” ini hidup dengan subur dikalangan UKM. Sehingga usaha mikro dan kecil tidak lagi menjadi kelemahan, melainkan sebuah kekuatan tersendiri. Menjadi “artisan” membuat produksi mereka terbatas, namun karena kualitasnya sangat tinggi dan berbeda, harganya menjadi sangat premium.

Baca juga  Ekonomi Tahun Kerbau Logam – Canda Bisnis ala Kafi Kurnia

Di Singapura – ada nasi goreng yang legendaris. Namanya Chen Fu Ji. Harganya $25 sepiring. Mahal sekali, hampir 300 ribu rupiah. Berawal dari tahun 1950’an 2 kakak beradik menjadikan nasi goreng menjadi hidangan raja, dengan semangat “artisan” yang luar biasa. Konon berbekal dengan resep yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun, kedua kakak beradik ini menciptakan sebuah nasi goreng, dimana setiap butir nasi dibungkus dengan telor, dan ketika matang disajikan dengan irisan daging kepiting. Sangat mewah dan sangat lezat. Tak heran apabila nasi goreng istimewa ini bisa punya tarif premium yang sangat mahal. Dan konsumen berani bayar.

Sayang kemahiran ini tidak diwariskan dengan baik. Dimasa jayanya setiap hari ada 200 – 300 orang yang antri untuk menikmati santapan mewah ala raja ini. Tahun 2016, restoran ini tutup setelah kedua kakak beradik itu pensiun sebelumnya.

Saya pikir semangat “artisan” harus kita tularkan kepada para UKM sehingga mereka akan bisa menciptakan terobosan inovasi yang langeng dan bisa diwariskan sehingga menjadi bisnis keluarga yang “sustainable”. Bukan hanya sesuatu yang sensasional dan tidak bisa bertahan lama. Karena pada akhirnya, konsumen bukan mencari sesuatu yang keren karena sensasi, tetapi sesuatu yang beken karena kualitasnya yang sangat tinggi dan tidak bisa disaingi orang lain. Semangat “artisan” harus menjadi roh baru UKM kita. Menciptakan gerakan daya saing yang baru.

 

#SiapUntukSelamat
#BersatuLawanCovid19
#CuciTangan
#JagaJarak
#MaskerUntukSemua
#TidakMudik
#DiRumahAja