Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak nabati pengganti minyak fosil, antara lain singkong (Manihot utilisima) dan tebu (Saccharum officanarum L.) sebagai sumber bahan baku bioetanol (pengganti bensin); kelapa sawit (Elaeisoleifera), kelapa (Cocos nucifera), jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma/Blanco Airy Shaw) sebagai sumber bahan baku biodiesel (pengganti solar).
Kemiri sunan sangat potensial sebagai penghasil minyak nabati jenis biodiesel. Tanaman ini mampu menghasilkan 4-6 ton biji kering per hektar per tahun atau setara dengan 2-3 ton minyak kasar (crude oil)perhektar per tahun atau 1,8-2,8 ton biodiesel per hektar per tahun.
Di sisi lain, tanaman ini beracun sehingga tidak dapat dikonsumsi. Kemiri sunan berasal dari Filipina dan sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat di Pulau Jawa.
Secara umum setiap tanaman membutuhkan hara dan lingkungan tumbuh yang spesifik untuk berproduksi dengan baik. Hara di dalam tanah sebagian besar berasal dari pelapukan mineral-mineral penyusun batuan induk, dimana batuan induk berbeda akan mempunyai komposisi mineral berbeda, sehingga jumlah dan jenis hara yang dihasilkan berbeda pula.
Pendekatan kesesuaian lahan sebagai dasar pengembangan komoditas pertanian selama ini, belum sepenuhnya mempertimbangkan kecukupan hara di dalam tanah, sehingga baik jumlah maupun jenis yang dibutuhkan belum banyak diketahui. Demikian juga jenis mineral sebagai menyedia hara belum banyak diteliti. Oleh karena itu identifikasi mineral dan hara tanah untuk pengembangan kemiri sunan sebagai sumber energi alternatif penting dilakukan.
Sebanyak 50 contoh tanah yang berasal dari 12 profil pewakil dan 30 contoh tanah komposit telah diambil dan dianalisis sifat fisika-kimia, mineralogi dan status kesuburan tanah di laboratorium. Sebanyak 31 contoh tanaman yang terdiri atas 17 contoh daun, tujuh contoh kulit buah dan tujuh contoh isi buah (kernel) kemiri sunan telah pula dianalisis serapan hara dan karakteristik minyak nabatinya (crude oil).
Hasil penelitian menunjukkan tanaman kemiri sunan yang ditanam di kebun percobaan dan perkebunan berumur 4-5 tahun, dan umumnya berbuah 1-2 kali (berbuah sejak umur rata-rata 3,5 tahun). Berbeda dengan tanaman kemiri sunan yang dijumpai di Kabupaten Garut dan Majalengka, tanaman sudah berusia puluhan tahun, rata-rata di atas 50 tahun, bahkan ada yang berumur lebih dari 70 tahun.
Pohon besar dan tinggi serta berdaun lebat, diameter pohon 1-2 m dengan tinggi 15-20 m. Berdasarkan ciri-ciri morfologis, varietas kemiri sunan yang dijumpai termasuk Kemiri Sunan 2, kecuali di Kabupaten Garut termasuk Kemiri Sunan 1.
Tanah sebagai media tumbuh tanaman kemiri sunan berkembang dari bahan volkan bersifat andesit-basalt sampai basalt. Komposisi mineral utama terdiri atas opak, feromagnesia, feldspar, perbedaannya hanya terdapat pada jumlah mineral penyusun.
Berdasarkan jumlah dan jenis mineral penyusun, SP berkembang dari bahan volkan andesit-basaltik, sedangkan lainnya (SG1, SG2, SG3, SM4, dan SM5) dari bahan volkan yang bersifat basalt. Mineral feromagnesia yang dijumpai adalah augit, hipersten, enstatit, dan hornblende.
Mineral-mineral tersebut merupakan sumber dari magnesium (Mg), besi (Fe), dan kalsium (Ca). Sedangkan mineral feldspar yang dijumpai adalah labradorit, bitownit, dan andesin. Mineral-mineral tersebut kaya akan kalsium (Ca) dan sodium (Na). Tanah tergolong subur ditunjukkan oleh tingginya kandungan mineral mudah lapuk pada semua profil yang dianalisis. Berdasarkan jumlah kandungan mineral mudah lapuknya bahwa profil SG1 > SG2 > SM5 > SG3 > SM4 > SP.
Secara umum tanah dalam sampai sangat dalam, tekstur halus sampai agak halus, drainase baik, permeabilitas sedang sampai agak cepat. Tanah yang berkembang dari bahan volkan andesit basalt mempunyai pH yang tergolong masam, sedangkan tanah dari bahan volkan basalt agak masam sampai netral.
Kandungan C organik sangat rendah sampai rendah. Basa-basa dapat tukar bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi, dan tanah-tanah dari bahan volkan basalt mengandung basa-basa (terutama Ca, Mg dan Na) lebih tinggi dari bahan volkan andesit basalt, sedangkan KTK tanah rendah sampai sedang.
Kadar minyak tertinggi akan diperoleh pada ketinggain < 200 m dpl. Selain jumlah curah hujan tahunan bahwa kadar minyak menurun sejalan meningkatnya curah hujan tahunan. Hubungan yang erat ditunjukkan kadar minyak dengan tingkat kebasahan suatu wilayah. Keeratan hubungan ditunjukkan oleh koefisien determinasi (R²) sebesar 0,74, bahwa semakin kering suatu wilayah, maka kadar minyak nabati akan semakin tinggi.
Kemiri sunan memegang peranan penting dalam sistem energi nasional, yaitu sebagai sumber energi alternatif bahan bakar minyak (BBM) yang bersumber dari fosil.
Berdasarkan kajian cadangan BBM yang ada hanya mampu mencukupi kebutuhan untuk 18 tahun ke depan. Oleh karena ini untuk menjadikan kemiri sunan sebagai sumber energi alternatif, perlu penelitian yang kongrit, tidak saja teknik budidaya, aspek ekonomi tetapi juga lingkungan tumbuh yang diinginkan agar tanaman kemiri sunan dapat tumbuh berproduksi optimal. [Teguhis]