Jakarta – Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April mendatang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menggelar Webinar bertajuk “Membiarkan Berbeda, Menguatkan Jiwa Raga dan Pikiran”. Webinar digelar di Hotel Fairmont, Jakarta dan disiarkan secara langsung melalui YouTube Kementerian ATR/BPN pada Kamis (01/04/2021).

Membuka kegiatan tersebut, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan A. Djalil menekankan pentingnya peran seorang perempuan, baik dalam keluarga, karir, maupun status ekonomi. Menurutnya, perempuan harus memiliki keseimbangan dalam menjalani peran-peran tersebut. “Ibu-ibu yang bekerja, memikirkan bagaimana mencari keseimbangan antara pekerjaan, karir, status ekonomi dan keluarga. Semoga webinar ini memberikan pencerahan, memberikan perspektif, jalan keluar terhadap masalah yang dibahas pada hari ini,” ujarnya melalui Zoom Meeting.

Hadir sebagai pembicara, Founder Indonesia Heritage Foundation (IHF) Ratna Megawangi memaparkan terkait peran gender, terutama dalam hal ini peran perempuan. Tema Webinar sendiri diambil dari judul buku yang ditulis 22 tahun lalu, “Membiarkan Berbeda” yang membahas secara mendalam tentang relasi gender. Walaupun buku tersebut terbit sudah sangat lama, isu gender masih hangat dan relevan di masyarakat.

Ratna Megawangi yang juga adalah istri dari Menteri ATR/Kepala BPN mengatakan, United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1995 memperkenalkan sebuah konsep Gender Development Index (GDI) atau Indeks Pembangunan Gender yang mengukur kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek, seperti pendidikan, kesehatan, partisipasi lapangan pekerjaan, dan politik. “Kita juga harus bisa melihat bagaimana ketimpangan keadilan antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.

Jika dilihat ke belakang, pada tahun 1984, kata Ratna Megawangi, sudah ada program kesetaraan gender yang disebut Pengarusutamaan Gender (PUG) di mana datanya terpilah antara data laki-laki dan perempuan. Senada dengan GDI, program tersebut juga mengukur laki-laki dan perempuan dalam hal kesehatan, pendidikan, parlemen, dan partisipasi di lapangan kerja.

Baca juga  Tangani Konflik Agraria, Kementerian ATR/BPN Pastikan Kegiatan Perekonomian Masyarakat Tetap Berjalan

“GDI score perfect-nya 50:50, kalau di parlemen 50% laki-laki, berarti perempuan juga harus 50%. Sekarang seluruh dunia menargetkan paling sedikit 30% (partisipasi perempuan). Dunia kerja juga demikian,” terangnya.

Lebih lanjut, Ratna Megawangi menjelaskan, angka tersebut dapat diraih dengan asumsi bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki partisipasi, keinginan, serta hobi yang sama tanpa adanya perbedaan. “Jadi peran gender karena memang ada sosialisasi, ada masalah budaya, atau masalah yang disebut nurture (faktor lingkungan), jadi bukan karena nature (faktor genetik),” pungkasnya.

Sebagai informasi, kegiatan ini juga dalam rangka Peningkatan Kapasitas Pegawai khususnya karyawati di lingkungan Kementerian ATR/BPN, baik di pusat maupun daerah. Turut hadir Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kementerian ATR/BPN Yulia Jaya Nirmawati sebagai moderator, serta jajaran Ikatan Istri Karyawan dan Karyawati (IKAWATI) Kementerian ATR/BPN. (YS/SA/AF/AM)

Baca juga  Pemanfaatan SIDA-KTPP untuk Mendukung Kegiatan Pengembangan Pertanahan

#KementerianATRBPN
#MelayaniProfesionalTerpercaya
#MajuDanModern
#MenujuPelayananKelasDunia