Jakarta – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) merupakan kementerian yang bersifat vertikal di mana kebijakan Menteri ATR/Kepala BPN menjadi pusat dan acuan para Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPN Provinsi maupun Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota dalam bertindak dan mengeksekusi program-program kerja di tempat kerja masing-masing. Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang mumpuni untuk mengeksekusi program-program kerja yang telah ditentukan. “Karena itu, kepemimpinan merupakan isu yang menarik untuk selalu dibahas serta didiskusikan,” kata Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN (Wamen ATR/Waka BPN), Surya Tjandra saat menjadi narasumber pada Webinar Pengembangan Kompetensi Manajerial Bagi Pemimpin dan Calon Pemimpin yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (19/08/2020).

Dalam paparannya, Surya Tjandra mengisahkan pengalamannya belajar mengenai kepemimpinan di Boston, Amerika Serikat. Di sana ia mengenal Teori U yang digagas oleh Otto Scharmer. “Sejatinya kepemimpinan itu bagaimana orang lain bisa mengikuti kemauan seorang pemimpin. Namun, dalam Teori U ini, sebelum membuat orang lain mengikuti kemauan seorang pemimpin, ia harus membuat perubahan dimulai dari diri dia sendiri. Ia dianggap gagal dalam memimpin apabila dia tidak bisa memulai perubahan dari diri dia sendiri,” kata Wamen ATR/Waka BPN.

Teori U ini diawali dari downloading semua ilmu dan pengetahuan yang sudah ada, kemudian melakukan suatu pengamatan atau observe. Lalu kemudian bagaimana seseorang dapat merefleksikan ilmu yang didapat serta melakukan presencing. “Dalam teori ini juga berdasarkan dua sumber pembelajaran serta dua siklus pembelajaran. Caranya dengan belajar merefleksikan pengalaman-pengalaman masa lalu serta belajar dari masa depan seperti yang sedang menjadi. Ini perlu dilatih melalui kombinasi antara pengalaman serta keberanian,” ujar Surya Tjandra.

Masa pandemi Covid-19 saat ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemimpin. Ini merupakan situasi yang berbeda dari tahun lalu sehingga mengakibatkan adanya ketidakpastian, disorientasi, hilang kendali serta gangguan emosional terhadap seorang pemimpin. “Langkah pertama, kita terima saja situasi tersebut. Lalu setelah itu kita perlu mengumpulkan informasi dan menentukan prioritas dengan memberdayakan sumber-sumber yang kita punya lalu kita mencari dan melaksanakan solusi yang sudah ada. Kita bentuk jejaring antar tim kerja dan bekerja bersama,” ujar Wamen ATR/Waka BPN.

Surya Tjandra juga menekankan bahwa pemimpin harus memiliki optimisme yang diimbangi dengan sikap realistis dengan kondisi sekarang ini. Selain itu, pemimpin juga harus berani mengambil keputusan di tengah krisis serta memiliki sifat empati dalam menangani tragedi kemanusiaan serta membangun komunikasi yang efektif, baik dalam masa krisis maupun ketika krisis sudah berlalu. “Ini merupakan bentuk kepemimpinan yang berkualitas untuk menghadapi krisis semasa pandemi saat ini,” ujar Wamen ATR/Waka BPN.

Baca juga  PTSL Berikan Kepastian Hukum dan Hak Ekonomi kepada Masyarakat

Pembicara dari Rumah Perubahan, Asmawi Syam mengatakan ada dua kompetensi yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Yang pertama hard competencies, yakni skill dan knowledge. Menurut Asmawi Syam, seorang pemimpin juga harus memiliki soft competencies. “Soft competencies yang dimaksud adalah pemimpin harus memiliki social role, harus memberikan persepsi baik di hadapan publik atau self image, pemimpin juga harus ada kepribadian dan bertindak yang didorong oleh integritas atau inovasi. Self competencies ini juga paling sulit untuk diukur,” kata Asmawi Syam.

Webinar kali ini juga menghadirkan Guru Besar Universitas Indonesia, praktisi bisnis sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali. Pada kesempatan ini Rhenald Kasali mengungkapkan bahwa saat ini dunia sedang mengalami apa yang dinamakan wind of change, artinya perubahan yang terjadi saat ini diikuti dengan perubahan yang cepat di bidang teknologi. Untuk itu, ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki enam kecerdasan baru, yaitu kecerdasan teknologi, kecerdasan sosial dan emosional, kecerdasan kontekstual, kecerdasan moral, kecerdasan generatif dan kecerdasan eksploitatif dan transformasional. “Dalam leadership 360°, seorang pemimpin harus dapat mengangkat beban atasannya, dia juga wajib memberikan dukungan kepada atasannya, serta membangun chemistry dengan atasannya. Selain itu, dapat menjadi pelengkap bagi rekan kerjanya serta menjadi kawan bagi yang lain,” kata Rhenald Kasali.

Baca juga  Ciptakan RDTR Berkualitas, Menteri ATR/Kepala BPN Tawarkan Ide Ini

Webinar ini merupakan webinar #4 yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan tema Leadership 360° yang diikuti oleh Sekretaris Jenderal, Himawan Arief Sugoto; Inspektur Jenderal, Sunraizal; Direktur Jenderal (Dirjen) Survei Pemetaan dan Pengukuran Pertanahan dan Ruang, R. Adi Darmawan; Tenaga Ahli Menteri ATR/Kepala BPN Bidang Sumber Daya Manusia, Adriani Sukmoro, para Kakanwil BPN Provinsi se-Indonesia serta para Kakantah Kabupaten/Kota se-Indonesia. (RH/RP)

#KementerianATRBPN
#MelayaniProfesionalTerpercaya